Selasa, 08 Mei 2012
Jumat, 04 Mei 2012
Rabu, 02 Mei 2012
PENDIDIKAN ANAK USIA DIN
Posted by Novi kristi _ PLS on 00.10
Aspek-Aspek Perkembangan Anak Usia Dini
Pada masa usia dini anak mengalami masa keemasan (the golden years) yang merupakan masa dimana anak mulai peka/sensitif untuk menerima berbagai rangsangan. Masa peka pada masing-masing anak berbeda, seiring dengan laju pertumbuhan dan perkembangan anak secara individual.
Masa peka adalah masa terjadinya kematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Masa ini juga merupakan masa peletak dasar untuk mengembangkan kemampuan kognitif, motorik, bahasa, sosio emosional, agama dan moral.
Beberapa Aspek-Aspek Perkembangan Anak Usia Dini :
1. Aspek Perkembangan Kognitif
Tahapan Perkembangan Kognitif sesuai dengan teori Piaget adalah: (1) Tahap sensorimotor, usia 0 – 2 tahun. Pada masa ini kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak refleks, bahas awal, waktu sekarang dan ruang yang dekat saja; (2) Tahap pra-operasional, usia 2 – 7 tahun. Masa ini kemampuan menerima rangsangan yang terbatas. Anak mulai berkembang kemampuan bahasanya, walaupun pemikirannya masih statis dan belum dapat berpikir abstrak, persepsi waktu dan tempat masih terbatas; (3) Tahap konkret operasional, 7 – 11 tahun.
Pada tahap ini anak sudah mampu menyelesaikan tugas-tugas menggabungkan, memisahkan, menyusun, menderetkan, melipat dan membagi; (4) Tahap formal operasional, usia 11 – 15 tahun. Pada masa ini, anak sudah mampu berfikir tingkat tinggi, mampu berfikir abstrak.
2. Aspek Perkembangan Fisik
Perkembangan motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot terkoordinasi (Hurlock: 1998). Keterampilan motorik anak terdiri atas keterampilan motorik kasar dan keterampilan motorik halus. Keterampilan motorik anak usia 4-5 tahun lebih banyak berkembang pada motorik kasar, setelah usia 5 tahun baru.terjadi perkembangan motorik halus.
Pada usia 4 tahun anak-anak masih suka jenis gerakan sederhana seperti berjingkrak-jingkrak, melompat, dan berlari kesana kemari, hanya demi kegiatan itu sendiri tapi mereka sudah berani mengambil resiko. Walaupun mereka sudah dapat memanjat tangga dengan satu kaki pada setiap tiang anak tangga untuk beberapa lama, mereka baru saja mulai dapat turun dengan cara yang sama.
Pada usia 5 tahun, anak-anak bahkan lebih berani mengambil resiko dibandingkan ketika mereka berusia 4 tahun. Mereka lebih percaya diri melakukan ketangkasan yang mengerikan seperti memanjat suatu obyek, berlari kencang dan suka berlomba dengan teman sebayanya bahkan orangtuanya (Santrock,1995: 225)
3. Aspek Perkembangan Bahasa
Hart & Risley (Morrow, 1993) mengatakan umur 2 tahun, anak-anak memproduksi rata-rata dari 338 ucapan yang dapat dimengerti dalam setiap jam, cakupan lebih luas adalah antara rentangan 42 sampai 672. 2 tahun lebih tua anak-anak dapat mengunakan kira-kira 134 kata-kata pada jam yang berbeda, dengan rentangan 18 untuk 286.
Membaca dan menulis merupakan bagian dari belajar bahasa. Untuk bisa membaca dan menulis, anak perlu mengenal beberapa kata dan beranjak memahami kalimat. Dengan membaca anak juga semakin banyak menambah kosakata. Anak dapat belajar bahasa melalaui membaca buku cerita dengan nyaring. Hal ini dilakukan untuk mengajarkan anak tentang bunyi bahasa.
4. Aspek Perkembangan Sosio-Emosional
Masa TK merupakan masa kanak-kanak awal. Pola perilaku sosial yang terlihat pada masa kanak-kanak awal, seperti yang diungkap oleh Hurlock (1998:252) yaitu: kerjasama, persaingan, kemurahan hati, hasrat akan penerimaan sosial, simpati, empat, ketergantungan, sikap ramah, sikap tidak mementingkan diri sendiri, meniru, perilaku kelekatan.
Erik Erikson (1950) dalam Papalia dan Old, 2008:370 seorang ahli psikoanalisis mengidentifikasi perkembangan sosial anak: (1) Tahap 1: Basic Trust vs Mistrust (percaya vs curiga), usia 0-2 tahun.Dalam tahap ini bila dalam merespon rangsangan, anak mendapat pengalaman yang menyenamgkan akan tumbuh rasa percaya diri, sebaliknya pengalaman yang kurang menyenangkan akan menimbulkan rasa curiga; (2) Tahap 2 : Autonomy vs Shame & Doubt (mandiri vs ragu), usia 2-3 tahun. Anak sudah mampu menguasai kegiatan meregang atau melemaskan seluruh otot-otot tubuhnya.
Anak pada masa ini bila sudah merasa mampu menguasai anggota tubuhnya dapat meimbulkan rasa otonomi, sebaliknya bila lingkungan tidak memberi kepercayaan atau terlalu banyak bertindak untuk anak akan menimbulkan rasa malu dan ragu-ragu; (3) Tahap 3 : Initiative vs Guilt (berinisiatif vs bersalah), usia 4-5 tahun.
Pada masa ini anak dapat menunjukkan sikap mulai lepas dari ikatan orang tua, anak dapat bergerak bebas dan ber interaksi dengan lingkungannya. Kondisi lepas dari orang tua menimbulkan rasa untuk berinisiatif, sebaliknya dapat menimbulkan rasa bersalah; (4) Tahap 4 : industry vs inferiority (percaya diri vs rasa rendah diri), usia 6 tahun – pubertas.
Anak telah dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangan untuk menyiapkan diri memasuki masa dewasa. Perlu memiliki suatu keterampilan tertentu. Bila anak mampu menguasai suatu keterampilan tertentu dapat menimbulkan rasa berhasil, sebaliknya bila tidak menguasai, menimbulkan rasa rendah diri.
Daftar Pustaka
Arya, P.K. 2008. Rahasia Mengasah Talenta Anak. Jogjakarta: Think
Hurlock, Elizabeth B. 1998. Psikologi Perkembangan, terj. Istiwidiyanti dan Soedjarwo. Jakarta: Erlangga
Anonym. 2007. Prinsip dan Praktek Pendidikan Anak Usia Dinii. Jakarta: Direktorat PAUD
Papalia, Diane E, Etc. 2008. Human Development (Psikologi Perkembangan, terjemahan A. K. Anwar). Jakarta: Kencana Prenada Media Grup
SUMBER ARTIKEL : http://pendidikananak2.blogspot.com/2012/04/artikel-anak-usia-dini.html
Selasa, 01 Mei 2012
PEMBINAAN MASYARAKAT TENTANG PENTINGNYA PAUD
Posted by Novi kristi _ PLS on 23.47
PEMBINAAN MASYARAKAT
TENTANG PENTINGNYA PAUD
PENGANTAR
Masa depan suatu bangsa ada pada sumber daya manuisanya yang berkualitas sehingga apabila suatu bangsa menginginkan kemajuan maka sumber daya manusia yang dimiliki harus dibina sedini mungkin. Sejak anak lahir harus sudah diasuh dan dibimbing agar dapat tumbuh dan berkembang sesuai apa yang diinginkan dikemudian hari. Kecerdasan anak pada usia 0–6 tahun berkembang cepat sehingga perlu diberi stimultan yang tepat agar hasilnya juga optimal. Sehingga melalui pendidikan PAUD lah anak–anak usia 0–6 tahun mendapat pembinaan watak dan karakter.
Menurut penelitian di negara maju bahwa anak usia 0 – 8 tahun sangat menentukan mutu hasil belajar dan kemampuan belajar anak di SD, SMP, dan perjalanan hidup seseorang selanjutnya (Sudjud,1998:1). Terlihat di Indonesia banyak anak yang mengulang di kelas–kelas awal SD, ini disebabkan karena kurang kesiapan anak masuk sekolah akibat kurangnya pembinaan anak ketika usia 0–6 tahun atau prasekolah. Sehingga dapat dikatakan bahwa pendidikan anak usia dini sangatlah penting karena periode emas tumbuh kembang anak pada usia 0–6 tahun.
Tetapi realita yang ada masih banyak anak yang belum mendapat layanan pendidikan anak usia dini karena kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan anak usia dini. Masyarakat baru memprioritaskan sandang dan pangan, karena berbagai penderitaan yang mereka hadapi sebagian akibat keadaan ekonomi. Maka apabila mereka disuruh memilih mereka tidak akan mau mensekolahkan anaknya ke PAUD tetapi langsung ke SD sebab mereka tidak sanggup membiayai pendidikan anak usia dini. Mereka menganggap pendidikan anak usia dini tidak terlalu mendesak. Sehingga mereka tidak perlu mensekolahkan anaknya di PAUD. Padahal semua anggapan itu keliru, justru pendidikan anak usia dini membantu mengembangkan potensi anak dan membantu kesiapan anak untuk menghadapi masa depan.
Untuk itu perlu adanya suatu pembinaan pada masyarakat tentang pentingnya PAUD, agar mereka mengerti bahwa PAUD itu membantu perkembangan anak agar optimal. Sehingga masyarakat perlu mengerti apa peranan pendidikan anak usia dini?dan apa pentingnya partisipasi masyarakat dalam pendidikan anak usia dini?dengan cara apa pembinaan pada masyarakat tentang pendidikan anak usia dini?.
A. PERANAN PAUD
Menurut Undang-undang Sisdiknas tahun 2003 pasal 1 ayat 14
menyatakan bahwa PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia 6 tahun melalui pemberian rangsang pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Sehinga PAUD itu memiliki peranan yang sangat penting untuk mengembangkan kualitas sumber daya manusia, memberikan kesiapan anak untuk pendidikan lebih lanjut
.Karena pembentukan kecerdasan dimulai dari usia 0-6 tahun maka perlu dibimbing dan dibina agar dalam perkembangannya itu berkembang dengan baik, tidak kearah yang tidak baik. Jika anak dibimbing sejak dini maka nantinya anak tersebut memiliki kesiapan untuk pendidikan lebih lanjut, anak yang tertinggal di SD semakin berkurang. Dengan begitu memiliki sumber daya manusia yang berkualitas dan dapat memajukan bangsa.
PAUD juga memiliki beberapa tujuan yaitu memfasilitasi 4 hal yakni
memfasilitasi perkembangan kognitif, emosional, sosial, dan perkembangan motorik (Sudjud,1998:5). PAUD itu dilaksanakan agar semua anak usia dini memiliki kesempatan tumbuh dan berkembang optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya, sehingga potensi yang dimiliki tidak disia – siakan tetapi dikembangkan.
B. PENTINGNYA PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI.
Partisipasi masyarakat dalam pendidikan anak usia dini sangat
penting. Karena partisipasi masyarakat dapat mensukseskan PAUD. Terutama keluarga atau orang tua karena merupakan penanggungjawab utama dalam optimalisasi tumbuh kembang anak. Orang tua perlu memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan kecerdasan emosi anak, agar ketika anak marah dapat secara tepat dengan cara yang wajar, tidak memaki. Jika perlu ketika anak marah bisa diberi sebuah kertas dan pensil agar anak menuangkan marahnya dalam sebuah karya.
Anak di usia dini lebih mudah diberi contoh daripada dinasihati sehingga perlu melibatkan keluarga dan masyarakat. Untuk itu orang tuapun dituntut mengembangkan potensi diri, dengan menambah pengetahuan, sehingga bisa jadi pusat informasi bagi anaknya.
Selain partisipasi masyarakat partisipasi pemerintah daerah juga sangat
diperlukan untuk memperluas jangkau pelayanan PAUD, sebagai penyandang dana, sebagai motivator. Dengan demikian berhasilnya PAUD bukan hanya peran guru PAUD sendiri tetapi juga masyarakat, pemerintah dan yang terpenting adalah keluarga. Karena orang yang paling dekat dengan anak adalah orang tua, maka orang yang berperan penting dalam pembentukan kepribadian anak adalah orang tua. Masyarakatpun juga bisa mempengaruhi kepribadian anak.
C. PEMBINAAN MASYARAKAT TENTANG PENTINGNYA PAUD
Untuk mengatasi permasalahan yang ada perlu adanya suatu
pembinaan pada masyarakat. Masyarakat perlu diberi pengertian bahwa dalam pendidikan anak usia dini tidak menitik beratkan pada suatu kompetensi,tetapi pada pola asuh,stimulus dan pengawasan gizi serta nutrisi. Anak–anak akan diajarkan melalui bermain yang terarah,jadi tidak hanya sekedar bermain tetapi bermain yang bisa memicu perkembangan otaknya. Sebab saat bermain otak anak dalam keadaan tenang,akibatnya akan mempermudah pendidikan bisa masuk dan tertanam (Hasrudin,2011). Selain itu dengan bermain anak bisa mengembangkan potensi yang luar biasa:
“Vygotsky believed that during play, children are free to experiment, attempt, and try out possibilities, enabling them to reach above and beyond their usual level of abilities. Play offers children opportunities to master their environment. When children play, they are in command; they use their imagination and power of choice to determine the conditions of play. In an environment where children are allowed to discover independently, at their own pace and in their own unique way, they are more likely to become enthusiastic, inquisitive learners” (Dorrell, 2000: 84).
Masyarakat juga perlu tahu bahwa melalui bermain bisa menanamkan budi pekerti pada anak usia dini. Itu akan lebih mudah dalam penanaman budi pekerti tersebut karena anak akan cepat menerima dan akan selau diingat, sebab pengalaman belajar awal tidak akan pernah bisa diganti oleh pengalaman berikutnya, sehingga akan terus melekat dikepala anak–anak tersebut. Karena anak usia 0–6 tahun itu sangat peka, jadi apa yang dterima, itulah yang akan selalu diingat dan yang dia tahu. Sehingga dalam memberikan pengajaran terhadap anak–anak harus hati– hati dan yang benar agar nantinya mereka bisa bersikap baik dan benar.
Dan memberikan sosialisasi pada masyarakat bahwa perkembangan
anak pada usia 0–6 sangat cepat, dan periode emas dalam tumbuh kembang anak hanya terjadi sekali dalam kehidupan manusia yang dimulai sejak lahir sampai usia 6 tahun. Sosialisasi pada masyarakat bisa melalui organisai PKK.
Dengan begitu masyarakat akan sadar bahwa pendidikan anak usia
dini itu sangat penting untuk masa depan terutama masa depan bangsanya karena masa depan bangsa ada pada generasi mudanya, jika generasi mudanya berkualitas nantinya juga bangsanya akan maju.
PENUTUP
PAUD memiliki peranan dalam mengembangkan sumber daya manusia agar tercipta sumber daya manusia yang berkualitas dan dapat memajukan bangsa. Serta mengoptimalkan tumbuh kembang anak terutama kecerdasan anak.
Dalam pengembangan PAUD, Partisipasi masyarakat juga sangatlah penting. Karena tanpa peran masyarakat dalam pengembangan PAUD tidak bisa berjalan dengan baik. Selain masyarakat pemerintahpun juga sangat berperan. Memang berhasilnya PAUD tanggung jawab pemerintah bersama masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Sihombing, Umberto. 2001. Masalah,Tantangan dan Peluang. Jakarta: CV.
Wirakarsa.
Sihombing, Umberto. 2000. Manajemen Strategi. Jakarta: PD. Mahkota.
Sudjud, Aswarni.1998. Permasalhan dan Alternative Solusinya Di Lembaga
Prasekolah. Yogyakarta.
Hasiyati. ”Penanaman Budi Pekerti pada Pendidikan Anak Usia Dini Melalui
Kelompok Bermain”. Buletin Widyaswara, hal. 9 – 14.
Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah & Pemuda Departemen
Pendidikan Nasional.2004. “Libatkan Peran Aktif Masyarakat dalam
Program PADU”. Jurnal Warta Plus, 32, 3, hal. 8 -10.
Hasrudin. 2011. Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini. Dari http://skb-
palopo.org/index.php/2011/03/16/pentingnya-pendidikan-anak-uisa-dini/,
diakses pada tanggal 5 Mei 2011 jam 13.00 WIB.
Hidayat, Dylmoon.,& Murdanu.1997. ”Pendidikan Orang Tua dalam Upaya
Meningkatkan Mutu Pendidikan”. Cakrawala Pendidikan, 3, XVI, Hal. 83-
92.
Dorrell, Angie.2000. ”All They Do Is Play?Play In Preschool”. Early
Childhood Education, hal 84.
Jumat, 24 Juni 2011
Pendidikan Etika Berlalu Lintas Bagi Remaja
Posted by Novi kristi _ PLS on 05.38
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.
Kebiasaan berlalu lintas semakin hari semakin memprihatinkan. Tingkat kesadaran para pengguna jalan raya terhadap pentingnya keselamatan sangat minim, ini terlihat dari tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang sebagian besar dialami anak sekolah/remaja. Remaja sekarang ini sebagian besar belum mengerti etika berlalu lintas, tentang berkendara di jalan raya yang mampu mendukung keselamatan dan kenyamanan berkendara di jalan raya. Para pelajar atau remaja lebih suka mengendarai dengan kecepatan tinggi dan mengendarainya secara ugal – ugalan. Perilaku inilah yang menyebabkan banyaknya kecelakaan lalu lintas.
Apalagi jumlah pengguna kendaraan bermotor dari tahun ke tahun semakin meningkat, terutama anak sekolah sekarang banyak yang menggunakan kendaraan bermotor untuk berangkat ke sekolah. Kendaraan bermotor sekarang bukanlah barang yang hanya bisa dibeli oleh orang yang memiliki uang banyak atau orang kaya, tetapi sudah menjadi barang yang semua orang dengan mudah membelinya. Bagi mereka kendaraan bermotor bisa mempermudah dan membantu segala aktivitas mereka. Apalagi bagi anak sekolah akan mempermudah dan mempercepat mereka sampai ke sekolah. Tetapi yang sangat disayangkan kebanyakan dari mereka tidak mengerti etika berlalu lintas , yang mereka ketahui hanya mengendarai motor tanpa memperhatikan etika ketika di jalan. Mereka berkendara dengan semaunya sendiri tanpa ada rasa mengalah ataupun menghormati pengendara lainya. Yang mereka pikirkan bagaimana caranya sampai di sekolah dengan cepat.
Padahal sudah diatur dalam UU lalu lintas no 22 tahun 2009 tentang tata cara berlalu lintas, tetapi tetap saja UU lalu lintas tersebut justru dilanggar. Seperti tidak menyalakan lampu isyarat belok kanan atau kiri saat belok ke kanan atau ke kiri, lupa mematikan lampu isyarat setelah belok yang membuat orang jadi salah menduga akan belok sehingga bisa terjadi tabrakan. Selain itu ada juga yang tidak menyalakan lampu ketika malam hari, ini sangat membahayakan sekali. Karena pengendara lain tidak akan tahu kalau di depannya ada motor yang sedang melaju sehingga bisa terjadi tabrakan. Hal – hal semacam itu sangat merugikan pengendara lain. Justru para anak mudalah atau remaja yang terkesan tidak mengetahui aturan dan etika lalu lintas. Para anak muda sering juga melakukan zig – zag berkendara di jalan raya yang membuat pengendara lain jadi ketakutan.
Melihat fenomena tersebut perlu adanya pendidikan etika berlalu lintas terutama bagi kaum muda atau remaja agar mereka mengerti aturan dan etika berlalu lintas dan supaya angka kecelakaan di jalan raya tidak semakin meningkat.
B. Rumusan Masalah
1. Mengapa remaja berkendara ugal - ugalan?
2. Apa dampak berkendara ugal - ugalan?
3. Apa solusi untuk mengatasi masalah tersebut?
BAB II
PEMBAHASAN
1. Penyebab Berkendara Ugal - Ugalan
Banyak anak muda sekarang ini yang tidak mengerti tentang etika berlalu lintas. Etika adalah ajaran tentang yang baik dan yang buruk dalam pikiran, perkataan, perbuatan manusia dan masyarakat (Panggabean,2008:118). Jadi Etika berlalu lintas itu ajaran tentang yang baik dan buruk berlalu lintas di Jalan. Etika berlalu lintas sangat penting untuk terciptanya kondisi jalan raya yang kondusif, yang menjamin keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan. Tetapi sekarang ini justru yang terjadi banyak anak muda yang tidak memperhatikan berkendara yang benar, tidak memperhatikan aturan lalu lintas.
Anak – anak sekolah sekarang ini lebih suka mengendarai motor dengan kecepatan tinggi karena kebiasaaan yang sudah membudaya di masyarakat mengendarai motor dengan kecepatan tinggi secara ugal– ugalan agar sampai tujuan dengan cepat, agar mereka terlihat seperti pembalap dan untuk gaya – gayaan saja. Tingkat kesadaran mereka akan keselamatan dirinya tergolong masih rendah, mereka maunya menguasai jalan raya, tidak memiliki rasa mengalah. Padahal kesadaran berlalu lintas adalah indikator cermin dari budaya bangsa seperti yang diungkapkan oleh Cannon bahwa
“untuk mengetahui budaya suatu negara cukup dilihat di jalan raya, karena jalan raya merupakan area bertemu dan berinteraksinya banyak orang dengan beragam karakter, sifat, ideologi, tingkatan ekonomi, jalan raya menjadi lokasi mengekspresi diri, dan sarana melihat budaya masyarakat secara kolektif “ (Cannon dalam Cepheryadi.wordpress.com,2011).
Bisa juga dikatakan bahwa moralitas pelajar dalam berlalu lintas sangat rendah karena perilakunya yang tidak sesuai aturan dan membahayakan orang lain dalam berkendara di jalan raya..
Selain itu contohnya saja fenomena di lampu merah, lampu merah belum berubah menjadi hijau, waktunya masih 2 detik lagi seharusnya tidak boleh memacu kendaraannya tetapi justru kendaraan yang ada di barisan belakang membunyikan klakson secara keras, bahkan kendaraan sudah digas sekencang- kencangnya agar kendaraan di depan segera jalan. Itu sikap yang salah sebab bisa merugikan pengendara yang ada di depan karena mendengar kendaraan digas sekencang – kencangnya yang membuat kebisingan dan membuat panik pengendara di depannya bahkan mungkin bisa mengaburkan fokus saat berkendara. Melihat hal tersebut bisa dikatakan bahwa mental dan budaya di Indonesia ini masih jauh jika dikatakan sebagai yang beradab.
Dari segi politik banyaknya remaja yang berkendara secara ugal – ugalan dan tidak mengerti etika lalu lintas padahal sudah ada aturan/ UU tentang tata cara berlalu lintas yang dibuat untuk mengendalikan orang atau kendaraan agar bisa berjalan dengan lancar dan aman, tetapi karena anggapan mereka yang menyatakan bahwa aturan dibuat untuk di langgar akhirnya mereka melanggar aturan tersebut seperti lampu merah belum berubah hijau mereka sudah jalan, padahal masih beberapa detik lagi. tidak punya SIM tetap berkendara, tidak melengkapi kendaraannya dengan kaca spion,klakson, lampu.
Dari segi ekonomi ini terjadi bisa saja remaja tersebut sedang memiliki masalah contohnya, meminta uang pada orang tuanya untuk membuat motornya lebih bagus, tetapi orang tuanya tidak memberikan sebab sedang tidak ada uang, dan keluarganya tergolong orang yang sederhana, sehingga remaja tersebut marah, emosi. Akhirnya remaja itu melampiaskan emosinya dengan berkendara ugal – ugalan. Dalam berkendara jika sedang marah bisa juga menjadi penyebab kecelakaan karena biasanya dalam keadaan marah membuat tidak fokus dalam mengendarai kendaraan.
Tetapi disisi lain jika mereka tidak mematuhi aturan yang ada, tidak mematuhi lalu lintas maka bisa ditilang dan akan mengeluarkan biaya untuk membayar denda, justru itu suatu pemborosan. Jika tidak membayar denda juga akan di beri sanksi pidana.
2. Dampak Berkendara Ugal - Ugalan
Sikap para pengguna jalan yang tidak memiliki rasa menghargai dan saling menghormati sesama pengguna jalan lainnya, para pengguna jalan yang ingin menang sendiri terutama anak muda, tidak mengerti etika berlalu lintas menyebabkan kecelakaan di jalan raya yang akan merugikan diri sendiri dan orang lain apalagi jika sampai menghilangkan nyawa orang karena sikap yang ugal – ugalan dalam berkendara, bisa terjerat hukuman dan pertanggungjawabannya juga pada Tuhan sebab sudah menghilangkan nyawa orang lain karena kelalaiannya.
Dan jika itu terus menerus terjadi angka kecelakaan di jalan raya akan semakin meningkat. Apalagi sebagian besar kecelakaan kendaraan bermotor terkhusus di Yogyakarta justru dialami anak sekolah atau remaja usia 10 – 24 tahun.
Ada beberapa penyebab kecelakaan lalu lintas yaitu :
1. Belum terampilnya dalam menjalankan kendaraan bermotor. Seperti sekarang ini semakin banyak anak – anak atau remaja yang belum cukup umur (min. 17 thn) dan belum mempunyai SIM sudah berkendara di jalan raya.
2. Kondisi badan yang tidak fit dan mengantuk
3. Mabuk – mabukan
selain faktor manusianya sendiri juga karena faktor keadaan kendaraannya dan lingkungan/ jalan yang dilalui pengendara. Seperti kondisi kendaraan yang sudah butut, minimnya perawatan, kendaraan bermotor yang dianeh – aneh seperti ban nya kecil, spionnya kecil, atau justru tidak ada spionnya. Kondisi jalanan yang berlubang, minimnya rambu-rambu jalan yang dipasang, sampai pohon yang tumbang atau lainnya juga menjadi faktor tambahan yang bisa menyebabkan keselamatan pengendara terancam. Namun tetap faktor yang disebabkan oleh manusialah yang paling banyak menimbulkan tingkat kecelakaan di jalan raya.
3. Solusi
Untuk mengatasi fenomena yang terjadi di atas perlu adanya suatu penanaman etika berlalu lintas. Seperti kabar yang beredar bahwa Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta merencanakan memasukan etika berlalu lintas di jalan raya sebagai salah satu pelajaran di kurikulum sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Ini dilakukan untuk memberikan pengetahuan tentang cara berlalu lintas yang benar kepada siswa karena sebagian besar kecelakaan kendaraan bermotor dialami anak sekolah. Selain itu Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta tengah melakukan rekayasa kurikulum pembelajaran etika berlalu lintas agar dapat terintregrasi dengan mata pelajaran lain seperti PKN, pendidikan agama. Untuk itu dengan akan diadakannya program tersebut sangat membantu untuk mengatasi masalah tentang kesadaran berlalu lintas terutama bagi kaum muda atau remaja.
Perlu juga penanaman etika berlalu lintas sejak dini , agar nantinya dapat menjadi generasi berkendara yang lebih baik dan berperan sebagai agen perubahan. Penanaman sejak dini sangat penting karena anak usia dini memiliki potensi yang luar biasa ,daya rekam anak usia dini itu sangat tinggi dan peka. Penanaman etika tersebut bisa dengan memberitahu kalau lampu merah berhenti, lampu hijau jalan, menyebarang jalan harus di zebracross. Dalam pengajarannya bisa menggunakan alat – alat peraga,gambar rambu – rambu lalu lintas. Dengan begitu anak mudah menerima ilmu/materi tersebut.
Selain itu perlunya juga pengecekan kendaraan sebelum bepergian,pastikan bahwa kondisi kendaraan motor dalam keadaan baik sehingga ketika akan bepergian akan aman dan jika kendaraan sudah tidak layak jalan sebaiknya tidak dipaksakan untuk dibawa bepergian. Pemerintah juga perlu menghimbau pada masyarakat untuk memperbaiki jalan – jalan yang rusak, yang berlubang. Karena sekarang ini banyak jalan – jalan yang berlubang yang menimbulkan resiko kecelakaan. Serta menghimbau agar ketika malam hari kendaraan bermotor lampunya wajib dinyalakan sebab masih ada yang tidak menyalakan lampu entah pengendara tersebut lupa ,sengaja ataupun karena lampu pada kendaraam bermotor rusak atau dimatikan. Hal semacam itu dilakukan supaya tidak terjadi kecelakaan.
Perlu juga adanya sosialisasi bahwa anak yang belum cukup umur atau yang belum mempunyai SIM tidak boleh membawa kendaraan bermotor mengingat kondisi psikologis dan mental mereka yang belum stabil untuk menghadapi kejadian di jalanan serta belum terampilnya dalam menjalankan kendaraannya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Karena kurangnya kesadaran para pengguna jalan raya terhadap pentingnya keselamatan di jalan raya dan kurangnya mengerti akan etika berlalu lintas maka perlu adanya suatu pendidikan etika berlalu lintas yang ditujukan terutama pada kaum muda atau remaja. Sebab kurang mengertinya etika berlalu lintas merupakan salah satu faktor penyebab kecelakaan lalu lintas. Seperti yang terjadi sekarang ini banyak kaum muda yang tidak mengerti etika berlalu lintas, mereka mengendarai motor secara ugal – ugalan. Sikap tersebut beresiko menimbulkan kecelakaan lalu lintas yang akan merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Selain karena faktor manusianya juga disebabkan faktor keadaan kendaraannya dan lingkungan atau jalan yang dilalui pengendara.
B. Saran
Perlunya penanaman etika berlalu lintas atau pendidikan berlalu lintas sejak dini, karena daya rekam anak masih tinggi dan peka serta anak – anak itu memiliki potensi yang luar biasa.
DAFTAR PUSTAKA
http://regional.kompas.com/read/2010/05/15/16022126/Etika.Berlalulintas.Masuk.Kurikulum, diakses pada Selasa 24 Mei 2011 jam 16.00
http://gugling.com/uu-baru-dalam-ber-lalu-lintas.html diakses pada Kamis 26
Mei 2011 jam 15.00
http://cepheryadi.wordpress.com/2011/01/19/stop-menjadikan-jalan-raya-
sebagai-penyebab-kematian-massal/, diakses pada Minggu 29 Mei 2011 jam
15.00
Panggabean,Yusri., Niyoko.2008.Kapita Selekta Mata Kuliah Pendidikan
Agama Kristen.Yogyakarta: UNY Press
Langganan:
Postingan (Atom)



