Welcome

>

Jumat, 15 Juni 2012

Motivasi

Kamis, 14 Juni 2012

Interaksi Sosial

Contoh – contoh  yang menjelasakan terjadinya interaksi sosial :
1.      Faktor Imitasi
Imitasi merupakan dorongan untuk meniru orang lain. Imitasi tidak berlangsung secara otomatis melainkan dipengaruhi oleh sikap menerima dan mengagumi terhadap apa yang diimitasi. Imitasi tidak berlangsung secara otomatis, tetapi ada faktor lain yang ikut berperan, sehingga seseorang mengadakan imitasi. Bagaimana orang dapat mengimitasi sesuatu kalau orang yang bersangkutan tidak mempunyai sikap menerima terhadap apa yang diimitasi itu. Dengan demikian untuk mengimitasi sesuatu perlu adanya sikap menerima, ada sikap mengagumi terhadap apa yang diimitasi itu, karena itu imitasi tidak berlangsung dengan sendirinya
Contohnya : seorang anak belajar berbicara yang mula – mula ia seakan – akan mengimitasi dirinya sendiri, ia mengulang – ulang bunyi kata seperti ba- ba – ba atau la- la – la, kemudian ia mengimitasi  orang lain  biasanya ibu , dalam mempelajari mengucapkan kata – kata pertama dan kata selanjutnya. Selain itu , untuk menyatakan dirinya dipelajari juga melalui proses imitasi seperti cara memberi hormat, cara berterima kasih. Cara berpakaian,gejala “mode” yang mudah menjalar dipelajari orang dengan jalan imitasi.

2.      Faktor Sugesti
Pengaruh psikis baik yang datang dari diri sendiri maupun dari orang lain  yang diterima tanpa adanya kritik.  Contoh seorang remaja putus sekolah akan dengan mudah ikut-ikutan terlibat Kenalan Remaja, tanpa memikirkan akibatnya kelak . 
Sugesti dapat dibedakan
a. auto sugesti, yaitu sugesti terhadap diri sendiri, sugesti yang datang dari dalam diri individu yang bersangkutan, Misal sering seseorang merasa sakit-sakit saja, walaupun secara obyektif yang bersangkutan dalam keadaan sehat-sehat saja tetapi karena auto-sugesti orang tersebut merasa tidak dalam keadaan sehat, maka ia merasa tidak sehat.
 b. hetero sugesti, yaitu sugesti yang datang dari orang lain. Contoh dalam bidang perdagangan, orang mempropagandakan dagangannya sedemikian rupa, hingga tanpa berfikir lebih lanjut orang termakan propaganda itu, dan menerima saja apa yang diajukan oleh pedagang yang bersangkutan. 

3.      Faktor Identifikasi
Identifikasi adalah dorongan untuk menjadi identik dengan orang lain. Kecenderungan ini bersifat tidak sadar bagi anak dan tidak hanya merupakan kecenderungan untuk menjadi seperti ayah atau ibu secara lahiriah tetapi justru secara batin. Contoh : Seorang anak laki – laki yang begitu dekat dan akrab dengan ayahnya suka mengidentifikasikan dirinya menjadi sama dengan ayahnya.
            Dalam proses identifikasi seluruh sistem norma, sikap, tingkah laku orang tuanya sedapat - dapatnya dijadikan norma, cita- cita dari anak itu sendiri. Dan ia menggunakan sistem norma dan sikap orang tuanya itu dalam tingkah lakunya sehari – hari. Proses identifikasi dirinya dengan diri orang tuanya itu, anak dapat menentukan sikanya atau dapat bertingkah laku sesuai dengan sistem norma orang tua tempat identifikasi dirinya itu.

4.      Faktor simpati
Perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang lain hingga mampu merasakan perasaan orang lain tersebut. Contoh membantu orang lain yang terkena musibah hingga memunculkan emosional yang mampu merasakan orang yang terkena musibah tersebut.

DAFTAR PUSTAKA


Gerungan ,W.A. 1991. Psikologi Sosial. Bandung: PT Eresco.


 http://nadhirin.blogspot.com/2010/05/interaksi-sosial.html, diakses pada  Jumat 30 Maret 2012 pukul 20.30 WIB.

PANCASILA SEBAGAI LANDASAN PENGEMBANGAN IPTEK

PANCASILA

SEBAGAI LANDASAN PENGEMBANGAN IPTEK

    Nama           : Novi Kristi Arjati
NIM             : 10102244028

PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN


ABSTRAK


Perkembangan IPTEK di era ini semakin cepat dan sengaja atau   tidak sengaja membawa budaya asing. Selain itu karena perkembangan IPTEK yang sangat cepat banyak orang menyalahgunakan IPTEK tersebut.
Oleh karena itu dalam pengembangan IPTEK harus berdasarkan pada nilai – nilai Pancasila agar dapat bermanfaat disegala aspek kehidupan manusia, bisa mensejahterakan manusia, agar tidak adanya monopoli IPTEK dan agar tidak terjerumus ke dalam nilai budaya asing yang dapat merusak moralitas bangsa sehingga pengembangan IPTEK tidak bisa bermanfaat untuk mencapai tujuan dalam bermasyarakat berbangsa dan bernegara Indonesia.
Dengan begitu dengan adanya perkembangan IPTEK bisa memberikan kemudahan disegala aspek kehidupan dan tidak disalahgunakan. Selain itu dampak negatif IPTEK dapat dikurangi. Maka dari itu dalam menggunakan IPTEK  juga harus dengan benar.
                       
KATA KUNCI
                                  
                        Pengembangan, IPTEK, Berlandaskan , Nilai, Pancasila.


A.    PENDAHULUAN

             Perkembangan IPTEK yang semakin cepat bisa mempengaruhi segala aspek kehidupan dan budaya. Bisa berpengaruh positif tetapi juga bisa berpengaruh negatif. Apalagi di era modern ini masuknya IPTEK disengaja atau tidak akan membawa nilai – nilai asing yang dapat mempengaruhi gaya hidup, sikap hidup maupun pikiran kita.
              IPTEK mampu membantu manusia dan memudahkan kehidupan manusia. Selain itu IPTEK penting bagi lembaga pendidikan sehingga IPTEK tidak bisa dipisahkan dari lembaga pendidikan. IPTEK dengan pendidikan memiliki hubungan yang erat. Karena pendidikan sangat dipengaruhi oleh perkembangan IPTEK dan IPTEK merupakan salah satu materi pengajaran sebagai bagian dari pendidikan. Oleh karena itu agar IPTEK bisa membantu untuk memudahkan kebutuhan manusia maka dalam menggunakan IPTEK harus dengan cara yang tepat.
           Tetapi Realitas yang ada justru IPTEK disalahgunakan  kebanyakan oleh remaja, juga sering dilakukan oleh para ilmuan. Contohnya saja  adanya internet yang mempermudah dalam pencarian informasi tetapi kebanyakan orang menggunakannya untuk mencari dan melihat video porno. Karena kondisi yang seperti itu maka perlu adanya landasan bagi pengembangan IPTEK yaitu Pancasila. Agar dalam pemgembangan IPTEK bisa berdampak positif dan bisa mensejahterakan manusia serta tidak disalahgunakan.

B.     PEMBAHASAN

             IPTEK memang bisa mempengaruhi dalam hal positif dan negatif. Sehingga dalam pengembangannya pun dibutuhkan suatu landasan agar tidak merugikan manusia dan bisa mengurangi dampak negatif. Yaitu berlandaskan pada nilai – nilai Pancasila karena  setiap sila demi sila pada Pancasila mengandung hal – hal yang penting dalam pengembangan IPTEK dan menunjukkan sistem etika dalam pengembangan IPTEK.
1.      Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, Perkembangan IPTEK kita      jadikan sebagai bentuk syukur pemberian akal oleh Yang Maha Esa. Sehingga IPTEK tidak dibuat untuk mencederai keyakinan umat beragama.
2.  Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, menekankan bahwa dalam pengembangan IPTEK harus dengan cara–cara yang berperikemanusiaan dan tidak merugikan manusia individual maupun umat manusia yang sekarang maupun yang akan datang agar bisa mensejahterakan manusia. ( T. Jacob, 2000 : 155 )
 3. Sila Persatuan Indonesia, mengingatkan kita untuk mengembangkan IPTEK untuk seluruh tanah air dan bangsa secara merata. Selain itu memberikan kesadaran bahwa rasa nasionalisme bangsa Indonesia akibat adanya kemajuan IPTEK, dengan IPTEK persatuan dan kesatuan bangsa dapat terwujud, persaudaraan dan persahabatan antar daerah dapat terjalin. ( T. Jacob, 2000 : 155 )
4.      Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, meminta kita membuka kesempatan yang sama bagi semua warga untuk dapat mengembangkan IPTEK dan mengenyam hasilnya sesuai kemampuan dan keperluan masing – masing, sehingga tidak adanya monopoli IPTEK. ( T. Jacob,2000 : 155 )
5.      Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, IPTEK didasarkan pada keseimbangan keadilan dalam kehidupan kemanusiaan. ( T. Jacob 2000 : 156 ).
                         Dengan begitu Iptek pada hakekatnya tidak bebas nilai namun terikat oleh nilai. Dan dalam pengembangannya juga dapat membawa dampak positif  yaitu memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia. Contohnya yang tadinya berhubungan menggunakan surat dengan adanya kemajuan IPTEK, berhubungan jarak jauh bisa menggunakan telepon,jika dulunya membajak sawah menggunakan alat tradisional kini bisa menggunakan peralatan dari mesin karena kemajuan IPTEK.
             Selain itu juga mempermudah meluasnya berbagai informasi. Serta bertambahnya pengetahuan dan wawasan karena dulu komputer, internet dan handphone merupakan peralatan yang sangat canggih dimana hanya orang – orang tertentu yang mampu membelinya dan menggunakannya,  namun karena perkembangan IPTEK peralatan elektronik tersebut menjadi benda yang menjamur dimana tidak hanya orang – orang tertentu yang mampu menggunakannya bahkan anak – anak dibawah umurpun menggunakannya.
             Kita juga harus waspada dan memiliki sikap positif terhadap Pancasila agar kita dapat menyaring dan memilih mana yang baik untuk dicontoh dan menghindari yang buruk. Karena dengan perkembangan komunikasi memudahkan hubungan antarbangsa di dunia dengan intensitas yang cukup tinggi sehingga menyebabkan proses akulturasi dan saling mempengaruhi antara nilai – nilai dan kebudayaan antarbangsa.
Selain itu seharusnya dalam penyajian siaran di televisi maupun di Radio atau diberbagai media elektronik harus yang bermanfaat karena sekarang ini banyak menyajikan yang kurang bermanfaat bagi masyarakat yang dapat mempengaruhi pola pikir masyarakat itu sendiri   dan bisa mempengaruhi pola berfikir anak. Sangat tidak baik jika anak – anak diberi siaran yang kurang bermanfaat karena tidak baik untuk perkembangan dan pertumbuhan anak. Jika siaran televisi tersebut menyajikan tayangan orang berkelahi bisa saja anak tersebut ikut – ikutan dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari – harinya.
           Oleh karena itu dalam menonton harus didampingi oleh orang tua agar anak tersebut diarahkan ke hal yang positif sehingga nantinya anak itu tidak terjerumus ke pergaulan bebas. Sebab sekarang ini banyak anak – anak dan remaja yang terjerumus pergaulan bebas hanya karena terpengaruh temannya, tidak adanya bimbingan dan perhatian dari orang tuanya atau bisa juga karena mendapat kiriman video porno melalui handphone sehingga ada keinginan untuk menirukan apa yang ada di video tersebut. Apalgi diperkuat oleh rayuan temannya yang sudah terjerumus ke hal yang negatif.
           Untuk itu anak – anak maupun remaja boleh – boleh saja di beri handphone, tetapi harus selalu dikontrol agar dengan adanya handphone tersebut tidak untuk hal – hal yang buruk tetapi untuk digunakan hal – hal yang positif seperti untuk alat komunikasi sebagaimana mestinya.

C.    PENUTUP
    1. KESIMPULAN
 Dalam pengembangan IPTEK harus dengan jiwa atau perikemanusiaan dan harus berpedoman pada nilai – nilai yang   terkandung di dalam Pancasila  karena sila – sila dalam Pancasila menunjukkan sistem  etika yang dapat menjaga keutuhan bangsa. Dan agar dalam pengembangan IPTEK bisa bermanfaat serta mensejahterakan kehidupan manusia.


    1. DAFTAR PUSTAKA

Rukiyati, dkk.2008. Pendidikan Pancasila.Yogyakarta: UNY Press


Www. Google. com / Perkembangan IPTEK, Minggu, 2 Januari 2011 jam 13.00 WIB.

                                          

Psikologi Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Saat ini sudah banyak masyarakat Indonesia yang sadar terhadap pentingnya pendidikan sehingga pendidikan sangat berkembang di Indonesia dari pendidikan prasekolah sampai pendidikan tinggi. Pendidikan sudah bukan merupakan hal yang mewah bagi masyarakat. Sudah tidak seperti pada masa penjajahan dahulu, yang hanya dirasakan oleh kaum elite dan para penjajah saja, sedangkan sekarang pendidikan sudah mencakup semua lapisan masyarakat.
Tujuan dari pendidikan itu sendiri adalah untuk merubah tingkah laku manusia. Perubahan tersebut dilakukan secara perlahan – lahan. Dalam proses perubahan tingkah laku manusia ini, dibutuhkan suatu pedoman, suatu cara, atau suatu indikator keberhasilan agar kita tahu apakah pendidikan tersebut berhasil atau tidak. Biasanya, pengukuran keberhasilan tersebut dilakukan dengan suatu evaluasi.
Evaluasi sangat penting di dalam pendidikan. Tidak hanya bagi peserta didik saja, tetapi juga bagi pendidik. Terjadi perbedaan manfaat evaluasi bagi pendidik dan peserta didik. Perbedaan ini diakibatkan kerena adanya perbedaan peran dalam pendidikan.

B.     Identifikasi Masalah
Dalam pendidikan tentunya peran evaluasi sangat penting maka dari itu kita harus mengetahui apa saja yang ada di dalam evaluasi pendidikan, yaitu pengertian, tujuan, fungsi, sifat, alat dari evaluasi pendidikan, prinsip-prinsip evaluasi, teknik evaluasi, dan prosedur pelaksanaan evaluasi.
Selain mengetahui apa saja yang ada dalam evaluasi, kita juga harus tahu perbedaan antara penilaian, pengukuran, dan evaluasi. Karena sekarang ini sebagian orang cenderung mengartikan pengukuran, penilaian dan evaluasi sebagai suatu pengertian yang sama, sebab sebagian orang tersebut belum memahami apa itu pengukuran, penilaian dan evaluasi, apa perbedaan dari ketiga kata tersebut. Meskipun ketiga kata tersebut memiliki perbedaan tetapi masing-masing antara penilaian, pengukuran, dan evaluasi saling terkait dan tidak dapat dipisahkan.

C.    Rumusan Masalah
1.      Apa perbedaan antara penilaian, pengukuran, dan evaluasi?
2.      Apa prinsip-prinsip dan teknik evaluasi?
3.      Apa fungsi dan peranan evaluasi?

D.    Tujuan Penulisan
1.      Agar mengetahui apa perbedaan penilaian, pengukuran dan evaluasi
2.      Mengetahui prinsip – prinsip dan teknik evaluasi
3.      Mengetahui fungsi dan peranan dari evaluasi


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Sebelum mengetahui lebih dalam tentang evaluasi, perlu lebih dahulu memahami pengertian evaluasi. Ada beberapa pengertian evaluasi menurut para ahli, diantaranya:
Menurut Stufflebean ( 1971) evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan.
Menurut Bloom (1971) evaluasi sebagaimana kita lihat adalah pengumpulan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam pribadi siswa.
Berdasarkan pendapat dua ahli diatas, dapat disimpulkan pengertian evaluasi adalah proses pengumpulan data secara sistematis untuk mengetahui sejauh mana tujuan tersebut tercapai. Sedangkan pengertian pebelajaran menurut beberapa ahli adalah:
            Menurut Sudjana (2000) pembelajaran merupakan setiap upaya yang dilakukan dengan sengaja oleh pendidik yang dapat menyebabkan peserta didik melakukan kegiatan belajar.
Menurut Gulo (2004) pembelajaran sebagai usaha untuk menciptakan sistem lingkungan yang mengoptimalkan kegiatan belajar.
Menurut Nasution (2005) pembelajaran sebagai suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak didik sehingga terjadi proses belajar.
Jadi, pembelajaran adalah suatu upaya, usaha atau aktivitas yang disengaja untuk menciptakan suatu lingkungan yang menyebabkan terjadinya kegiatan belajar.
            Dari semua definisi evaluasi dan pembelajaran yang telah dijelaskan diatas, dapat disimpulkan evaluasi pembelajaran adalah suatu proses pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan kegiatan belajar.



BAB III
              PEMBAHASAN

A.    Perbedaan Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi
Evaluasi dilakukan dengan menempuh dua langkah. Langkah pertama yang harus dilakukan ketika akan melakukan evaluasi adalah mengadakan pengukuran. Langkah berikutnya adalah melakukan penilaian. Meskipun banyak orang yang mengartikan sama namun sebenarnya antara pengukuran, penilaian, dan evaluasi mempunyai arti yang berbeda-beda. Pengukuran mempunyai arti membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif. Penilaian adalah pengambilan suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kualitatif. Sedangkan evaluasi meliputi kedua langkah diatas, yaitu mengukur dan menilai.
Berdasarkan penjelasan diatas, terlihat jelas bahwa ada perbedaan antara pengukuran, penilaian, dan evaluai. Namun ketiganya saling terkait dan tidak dapat dipisahkan jika kita akan melakukan sebuah evaluasi.

B.     Prinsip Evaluasi dan Teknik evaluasi
1.      Prinsip Evaluasi
Agar penilaian pendidikan dapat mencapai sasarannya dalam mengevaluasi pola tingkah laku, maka harus memperhatikan prinsip –prinsip sebagai berikut :
a.       Evaluasi harus dilaksanakan secara kontinyu
Evaluasi itu harus dilaksanakan secara terus menerus pada masa – masa tertentu agar memperoleh kepastian atau kemantapan dalam mengevaluasi.
b.      Evaluasi harus dilaksanakan secara komprehensif
c.       Evaluasi harus dilaksanakan secara obyektif
Dalam proses penilaian hanya menunjuk pada aspek –aspek yang dinilai sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
d.      Dalam melaksanakan evaluasi harus menggunakan alat pengukur yang baik
Agar evaluasi itu obyektif diperlukan informasi yang relevan. Untuk memperoleh Informasi yang relevan diperlukan alat pengukur yang dapat dipertanggungjawabkan atau memenuhi syarat, diantaranya
-          Alat pengukur harus valid
-          Alat pengukur harus reliabel
-          Alat pengukur harus memiliki daya pembeda
2.      Teknik Evaluasi
Teknik evaluasi yang digunakan, secara garis besar digolongkan menjadi dua macam, yaitu:
a.       Teknik tes
Tes merupakan suatu alat pengumpul evaluasi, bersifat lebih resmi karena penuh dengan batasan-batasan. Ditinjau dari segi kegunaan, untuk mengukur siswa dibedakan adanya tiga macam tes:
1)      Tes diagnostik
Tes ini dilakukan sebelum memberikan bantuan dengan tepat, guru harus mengadakan tes yang maksudnya mengadakan diagnosis. Tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa sehingga berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat.
2)      Tes formatif
Tes ini diberikan pada akhir setiap program. Ada beberapa manfaat tes formatif bagi siswa, guru, maupun program itu sendiri:
·           Digunakan untuk mengetahui apakah siswa sudah menguasai bahan program secara menyeluruh
·           Merupakan penguatan bagi siswa
·           Usaha perbaikan
·           Sebagai diagnosis
Manfaat bagi guru:
·         Mengetahui sejauh mana bahan yang diajarkan sudah dapat diterima oleh siswa
·         Mengetahui bagian-bagian mana dari bahan pelajaran yang belum dikuasai siswa
·         Dapat meramalkan sukses atau tidaknya seluruh program yang akan diberikan.
Manfaat bagi program:
·         Apakah program yang diberikan merupakan program yang tepat dalam arti sesuai dengan kecakapan anak.
·         Apakah program tersebut membutuhkan pengetahuan prasyarat yang belum diperhitungkan.
·         Apakah diperlukan alat, sarana dan prasarana untuk mempertinggi hasil yang akan dicapai.
·         Apakah metode pendekatan dan alat evaluasi yang digunakan sudah tepat.
3)      Tes Sumatif
Dilakukan setelah berakhirnya pemberian sekelompok program atau sebuah program yang lebih besar. Tes sumatif mempunyai beberapa manfaat, antara lain:
·         Untuk menentukan nilai
·         Untuk menentukan seorang anak dapat atau tidaknya mengikuti kelompok dalam menerima program berikutnya.
·         Untuk mengisi catatan kemajuan belajar siswa.
b.      Teknik Non Tes
Ada beberapa teknik non tes yaitu:
1)      Skala bertingkat (rating scale)
Skala menggambarkan suatu nilai yang berbentuk angka terhadap suatu hasil pertimbangan.
2)      Kuesioner (questinare)
Sering dikenal juga dengan angket. Kuesioner adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden). Kuesioner dibagi menjadi menjadi dua menurut segi siapa yang menjawab, yaitu langsung dan tidak langsung.
·         Kuesioner langsung
Kuesioner tersebut dikirimkan dan diisi langsung oleh responden.
·         Kuesioner tidak langsung
Dikirimkan dan diisi oleh bukan orang yang diminta ketererangannya.
Dilihat dari segi cara menjawab, dibedakan menjadi dua, yaitu:
·         Kuesionar tertutup
Kuesioner yang disusun dengan menyediakan pilihan jawaban langkah sehingga pengisi hanya tinggal memberi tanda pada jawaban yang dipilih.
·         Kuesioner terbuka
Kuesioner yang disusun sedemikian rupa sehingga para pengisi bebas mengemukakan pendapatnya.
3)      Daftar Cocok (Check list)
Deretan pertanyaan (biasanya singkat) dimana responden yang dievaluasi tinggal membubuhkan tanda cocok (   Ö  ) ditempat yang sudah disediakan.
4)      Wawancara (Interview)
Cara yang digunakan untuk mendapatkan jawaban dari responden dengan jalan tanya jawab sepihak. Wawancara daapt dilakukan dengan dua cara :
·         Interview bebas
Responden mempunyai kebebasan untuk mengutarakan pendapatnya.
·         Interview terpimpin
Dilakukan oleh subyek evaluasi dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sudah disusun terlebih dahulu. Jadi, responden pada waktu menjawab pertanyaan tinggal memilih jawaban yang sudah dipersiapkan.
5)      Pengamatan (observation)
Suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematis. Ada tiga macam observasi:
·         Observasi Partisipan
Observasi yang dilakukan pengamat ,tetapi dalam pada itu pengamat memasuki dan mengikuti kegiatan kelompok yang sedang diamati.
·         Observasi Sistematik
Observasi dimana faktor – faktor yang diamati sudah didaftar secara sistematis dan sudah diatur menurut kategorinya.
·         Observasi Eksperimental
Terjadi jika pengamat tidak berpartisipasi dalam kelompok, pengamat dapat mengendalikan unsur – unsur penting dalam situasi sedemikian rupa sehingga situasi itu dapat diatur sesuai dengan tujuan evaluasi.
6)      Riwayat Hidup
Gambaran tentang keadaan seseorang selama hidupnya. Dengan mempelajari riwayat hidup maka subjek evaluasi akan dapat menarik suatu kesimpulan tentang kepribadian,kebiasaan dan sikap dari objek.


C.    Fungsi dan Peranan Evaluasi
1.      Fungsi evaluasi
Menurut Suryabrata (1986) menjelaskan fungsi evaluasi belajar meliputi :
a.       Fungsi Psikologis : agar siswa memperoleh kepastian tentang status di dalam kelasnya, dan bagi guru merupakan suatu pertanggungjawaban sampai seberapa jauh usaha mengajarnya dikuasai siswanya.
b.      Fungsi Didaktis  : bagi anak didik keberhasilan maupun kegagalan belajar akan berpengaruh besar  pada usaha – usaha berikutnya. Sedangkan bagi pendidik penilaian hasil belajar dapat menunjukkan keberhasilan atau kegagalan mengajarnya
c.       Fungsi Administratif : dengan adanya penilaian dalam bentuk rapor akan dapat dipenuhi fungsi administratif yaitu :
1.      Merupakan inti laporan kepada orang tua siswa, pejabat, guru dan siswa itu sendiri
2.      Merupakan data bagi siswa apabila ia akan naik kelas, pindah sekolah maupun untuk melamar pekerjaan
3.      Memberikan informasi mengenai segala hasil usaha yang telah dilakukan oleh lembaga pendidikan
Menurut Wuradji ( 1974 ) :
1.      Fungsi evaluasi hasil belajar untuk kepentingan murid
a.       Untuk mengetahui kemajuan belajar
b.      Dipergunakan sebagai dorongan (motivasi ) belajar
c.       Untuk memberikan pengalaman dalam belajar
2.      Fungsi evaluasi hasil belajar untuk kepentingan pendidik
a.       Untuk menyeleksi siswa yang selanjutnnya berguna untuk meramalkan keberhasilan studi berikutnya.
b.      Untuk mengetahui sebab – sebab kesulitan belajar murid yang selanjutnya berguna untuk memberikan bimbingan belajar kepada murid
c.       Untuk pedoman mengajar
d.      Untuk mengetahui ketepatan metode mengajar
e.       Untuk menempatkan murid dalam kelas
3.      Fungsi evaluasi hasil belajar untuk kepentingan lembaga pendidikan
a.       Untuk mempertahankan standar pendidikan
b.      Untuk menilai ketepatan kurikulum yang disediakan
c.       Untuk menilai kemajuan sekolah yang bersangkutan
Sehinga dapat disimpulkan bahwa fungsi evaluasi
-          Bagi siswa : dapat mengetahui sejauh mana telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru
-          Bagi guru : mengetahui apakah materi yng diajarkan sudah tepat bagi siswa dan mengetahui apakah metode yang digunakan sudah tepat,
2.      Peranan Evaluasi
Evaluasi dalam proses pengembangan sistem pendidikan berperan untuk
a.       Perbaikan sistem
Dalam hal ini peranan evaluasi lebih bersifat konstruktif karena informasi hasil penilaian dijadikan input bagi perbaikan yang diperlukan dalam sistem pendidikan yang sedang dikembangkan,
b.      Pertanggungjawaban kepada pemerintah dan masyarakat
Selama dan terutama pada akhir fase pengembangan sistem pendidikan diperlukan adanya pertanggungjawaban dari pihak pengembangan kepada berbagai pihak yang berkepentingan. Dalam pertanggungjawaban tersebut dijelaskan hasil yang telah dicapai. Pihak pengembang perlu mengemukan kekuatan dan kelemahan dari sistem yang sedang dikembangkan serta usaha lebih lanjut untuk mengatasi kelemahan yang ada untuk menghasilkan informasi tentang kekuatan dan kelemahan tersebut diatas, diperlukan kegiatan evaluasi. 

  
BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Evaluasi pembelajaran adalah suatu proses pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan kegiatan belajar. Jika ingin melakukan evaluasi, harus melalui dua tahap yaitu pengukuran dan penilaian karena evaluasi merupakan gabungan dari pengukuran dan penilaian.
Dalam melakukan evaluasi, ada prinsip-prinsip yang harus dilakukan agar evaluasi mencapai sasaran. Dalam evaluasi juga ada dua teknik yaitu teknik tes dan teknik non tes yang masing-masing dibagi menjadi beberapa bagian lagi.
Evaluasi juga berperan penting dalam pendidikan, baik bagi pendidik maupun peserta didik. Peranan evaluasi bagi peserta didik antara lain untuk mengetahui kemajuan belajar, dipergunakan sebagai dorongan (motivasi) belajar, dan untuk memberikan pengalaman dalam belajar.
  

DAFTAR PUSTAKA

 Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.


Arikunto, Suharsimi. 2005. Dasar – Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.


Daryanto. 2005. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta. 

 
Free Web Hosting | Top Web Hosting | Great HTML Templates from easytemplates.com.